Minggu, 19 April 2026 WIB
Minggu, 19 April 2026 WIB

Terjang Gelombang 4 Meter, Tim SAR Meranti Berhasil Evakuasi Dua Jenazah di Jalur Internasional

Redaksi - Kamis, 08 Januari 2026 23:25 WIB
Terjang Gelombang 4 Meter, Tim SAR Meranti Berhasil Evakuasi Dua Jenazah di Jalur Internasional
MERANTI -- Tim SAR Kabupaten Kepulauan Meranti berhasil mengevakuasi dua jenazah korban kecelakaan laut di jalur pelayaran internasional perairan perbatasan Indonesia-Malaysia, pada Rabu (7/1/2026). Operasi pencarian dan evakuasi sempat menghadapi cuaca ekstrem dengan gelombang setinggi 3 hingga 4 meter.

Kanit Basarnas Kepulauan Meranti, Herrie Prima Saputra, Kamis (8/1), menjelaskan bahwa operasi pencarian bermula dari laporan nelayan terkait hilangnya seorang Anak Buah Kapal (ABK) KM Makmur Jaya 89 yang terjatuh ke laut di perairan Bengkalis pada Minggu (4/1/2026).

Di waktu yang hampir bersamaan, tim SAR yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri dan BPBD Kepulauan Meranti itu juga menerima informasi dari pihak SAR Malaysia mengenai dua nelayan asal negara tersebut yang dilaporkan hilang. Satu orang diantaranya telah ditemukan lebih dulu pada Rabu sekitar pukul 09.00 WIB.

Sejak hari pertama pencarian, tim SAR Kepulauan Meranti langsung bergerak ke tengah laut dan menyampaikan informasi kepada para nelayan di sekitar lokasi terkait ciri-ciri korban yang hilang.

"Jadi kami mengimbau kepada para nelayan agar segera melapor apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban," ujar Prima.

Upaya tersebut membuahkan hasil pada malam harinya, Rabu sekitar pukul 20.00 WIB, ketika nelayan melaporkan penemuan satu jenazah di jalur tanker. Tim SAR pun segera bergerak menuju lokasi.

"Saat itu gelombang cukup tinggi, berkisar 3 sampai 4 meter. Namun demi kemanusiaan, kami tetap menembus gelombang untuk melakukan evakuasi," ungkapnya.

Jenazah pertama diketahui merupakan warga negara Malaysia yang sebelumnya dilaporkan hilang. Proses evakuasi dilakukan di tengah laut dan jenazah langsung diserahkan kepada pihak Maritim Batu Pahat, Malaysia, di jalur tanker. Penyerahan tersebut disaksikan langsung oleh pihak keluarga korban yang memastikan identitas jenazah.

Selanjutnya, dalam perjalanan kembali menuju Desa Bandul, Kecamatan Tasik Putripuyu, Kabupaten Kepulauan Meranti, tim SAR kembali menerima laporan dari nelayan mengenai penemuan jenazah kedua. Lokasinya sekitar lima mil laut dari titik penemuan pertama dan masih berada di jalur tanker internasional Indonesia-Malaysia.

"Jenazah kedua merupakan nelayan asal Tanjung Balai Karimun yang dilaporkan hilang sejak Minggu. Setelah menerima laporan, kami langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi," jelas Prima.

Namun dalam perjalanan membawa jenazah menuju Desa Bandul, kondisi cuaca kembali memburuk. Gelombang tinggi menyebabkan air laut masuk ke dalam tangki bahan bakar kapal Rigid Inflatable Boat (RIB) Basarnas, sehingga bahan bakar bercampur air dan mengakibatkan tenaga mesin melemah.

"Dalam kondisi seperti ini, kami tidak bisa memaksakan perjalanan. Keselamatan personel menjadi prioritas utama," ujarnya.

Tim SAR kemudian berinisiatif melakukan perbaikan darurat di tengah laut. Karena posisi sudah berada di perairan Bengkalis, tim meminta bantuan pengantaran dua jeriken BBM dari speedboat Tenggiri. Namun akibat kondisi laut yang tidak bersahabat serta air laut yang surut, bantuan tidak dapat merapat dan kapal Basarnas akhirnya kandas di perairan Teluk Lancar, Kabupaten Bengkalis.

"Kapal tidak tenggelam, tapi gelombang besar menyebabkan air laut masuk dan merendam RIB," paparnya.

Tim selanjutnya mengevakuasi jenazah tersebut ke darat dan menuju puskesmas terdekat. Sementara kapal Basarnas yang kandas baru bisa dievakuasi setelah air laut pasang.

"Di sana, jenazah korban akhirnya dijemput oleh Basarnas Tanjung Balai Karimun untuk diserahkan kepada pihak keluarga," tambahnya.

Tim kemudian bergerak ke Selatpanjang, namun armada Basarnas dievakuasi sementara di Desa Bandul karena dalam kondisi rusak dan direncanakan akan ditarik ke Selatpanjang untuk menjalani perbaikan.

"Ini merupakan jalur pelayaran internasional dengan tingkat risiko tinggi. Armada kami terbatas, namun tanggung jawab kemanusiaan membuat kami tetap bertahan hingga seluruh korban berhasil dievakuasi," tutup Prima.

Baca Juga:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Basarnas Riau Bersama Bupati dan BPBD Meranti Saling Perkuat Sinergi

Basarnas Riau Bersama Bupati dan BPBD Meranti Saling Perkuat Sinergi

Komentar
Berita Terbaru