Minggu, 06 September 2026 WIB
Minggu, 06 September 2026 WIB

Produk UMKM Pulau Merbau Masih Tertahan di Pasar Lokal

Pauzi - Rabu, 15 Juli 2026 09:29 WIB
Produk UMKM Pulau Merbau Masih Tertahan di Pasar Lokal
PULAU Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, menyimpan beragam produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang lahir dari kekayaan perkebunan serta hasil laut.

Mulai dari jus pinang muda, terasi berbahan udang pepai, hingga ikan bilis kering, seluruhnya memiliki kualitas yang mampu bersaing dan mendapat sambutan baik dari konsumen.

Namun, potensi tersebut hingga kini masih tertahan di pasar lokal. Keterbatasan legalitas usaha, minimnya peralatan produksi, serta akses pemasaran yang belum luas membuat produk-produk unggulan itu belum mampu menembus pasar yang lebih besar.

Salah satu inovasi unggulan lahir dari Desa Semukut melalui tangan kreatif Bahrul Hayat. Berbekal potensi pinang yang melimpah, ia berhasil mengembangkan Jus Pinang Muda (JPM), minuman herbal yang diproduksi dalam bentuk cair maupun serbuk kemasan sachet.

Produk tersebut dibuat dari bahan-bahan alami seperti pinang muda, gula, susu, teh, dan kayu manis. Sejumlah konsumen mengaku merasakan manfaat setelah rutin mengonsumsinya. Ada yang menyebut tubuh terasa lebih segar, stamina meningkat, hingga membantu melancarkan haid bagi perempuan.

Meski demikian, perjalanan mengembangkan JPM tidak mudah. Bahrul mengaku pernah kehilangan semangat karena produknya belum dikenal luas. Permintaan pasar masih terbatas, sementara seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual.

"Kami sebenarnya optimistis dengan kualitas produk ini. Hanya saja masyarakat di luar Pulau Merbau masih banyak yang belum mengenalnya," kata Bahrul, belum lama ini.

Menurut dia, kendala terbesar saat ini adalah legalitas. Produk JPM belum mengantongi izin BPOM karena rumah produksi masih menyatu dengan rumah tinggal, sedangkan salah satu syarat pengurusan BPOM adalah memiliki tempat produksi khusus yang memenuhi standar.

Selain itu, proses produksi yang masih manual juga membatasi kapasitas usaha.

"Kami berharap ada bantuan mesin penghancur pinang supaya produksi bisa ditingkatkan. Selain itu juga perlu dukungan promosi agar Jus Pinang Muda semakin dikenal masyarakat," ujarnya.

Baca Juga:

Persoalan hampir serupa juga dihadapi pelaku usaha terasi di Desa Ketapang Permai. Desa pesisir tersebut dikenal sebagai salah satu sentra penghasil terasi berkualitas di Kabupaten Kepulauan Meranti karena menggunakan udang pepai murni sebagai bahan baku utama.

Dalam satu musim panen, para pelaku usaha mampu memproduksi sekitar 5.000 keping terasi dalam waktu kurang dari satu bulan. Namun sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan di wilayah Kepulauan Meranti.

Terbatasnya pemasaran disebabkan produk belum memiliki sertifikat halal maupun izin edar. Di sisi lain, proses produksi juga masih dilakukan secara mandiri oleh masing-masing nelayan dengan peralatan sederhana.

Potensi besar juga dimiliki Desa Teluk Ketapang yang dikenal sebagai sentra pengolahan ikan bilis kering.

Ketua Kelompok Nelayan Ketapang Bersama, Azman, mengatakan hasil tangkapan ikan bilis pada kondisi normal berkisar 30-40 kilogram per hari, bahkan dapat mencapai sekitar 100 kilogram saat musim ikan tiba.

"Harga bilis kering saat ini rata-rata sekitar Rp65 ribu per kilogram. Namun pemasaran kami masih didominasi wilayah Selatpanjang," katanya.

Menurut Azman, agar mampu menembus pasar yang lebih luas, produk bilis kering juga membutuhkan legalitas berupa sertifikat halal dan izin edar.

Selain itu, nelayan juga membutuhkan dukungan peralatan.

"Kami sangat berharap ada bantuan mesin pengering karena selama ini proses pengeringan sangat bergantung pada cuaca. Kalau hujan, produksi otomatis ikut terganggu," ujarnya.


Ketiga produk unggulan tersebut pada dasarnya menghadapi persoalan yang sama. Bahan baku tersedia melimpah, kualitas produk telah diakui konsumen, tetapi keterbatasan legalitas, peralatan produksi, dan akses pemasaran membuat potensi ekonomi Pulau Merbau belum berkembang secara maksimal.

Camat Pulau Merbau, Hermansyah, mengatakan peluang pasar bagi produk-produk UMKM daerahnya sebenarnya sudah terbukti ketika mengikuti bazar pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi.

"Seluruh produk yang kami bawa habis terjual. Artinya masyarakat menerima dan menyukai produk UMKM Pulau Merbau," kata Hermansyah.

Menurut dia, tingginya minat masyarakat tersebut menjadi bukti bahwa kualitas produk lokal mampu bersaing apabila didukung pembinaan yang berkelanjutan.

"Tantangannya sekarang adalah bagaimana pelaku UMKM mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih besar melalui peningkatan kualitas kemasan, kelengkapan legalitas, dan dukungan sarana produksi," ujarnya.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi memperkuat UMKM Pulau Merbau.

"Kami berharap ada dukungan semua pihak agar UMKM tidak hanya berkembang di tingkat lokal, tetapi mampu menembus pasar regional bahkan nasional. Potensinya sudah ada, tinggal diperkuat melalui pembinaan dan fasilitas," katanya.

Plt Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen mendampingi pelaku UMKM agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Eko menilai, penguatan kelembagaan menjadi fondasi utama dalam pengembangan UMKM.

"Penguatan kelembagaan adalah langkah awal. Kalau kelompok usahanya kuat, pengurusan legalitas, kemasan, dan akses pasar akan lebih mudah," kata Eko.

Menurut dia, kelompok usaha yang tertata akan mempermudah proses pengurusan legalitas, mulai dari PIRT, sertifikasi BPOM, sertifikat halal, hingga pengembangan kemasan produk yang lebih kompetitif.

Pemerintah daerah juga mendorong pemanfaatan Rumah BUMN, memperkuat kolaborasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta menggandeng BUMD untuk memperluas jaringan pemasaran. Langkah itu diharapkan mampu membawa produk UMKM Meranti bersaing di pasar regional hingga nasional.

Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Setiawan, menambahkan perlunya forum rutin bersama pelaku UMKM untuk membahas persoalan yang dihadapi di lapangan.

"Kami perlu pertemuan rutin dengan pelaku UMKM agar setiap kendala di lapangan bisa dibahas bersama dan segera dicarikan solusinya," ujar Eko Setiawan.

Dukungan terhadap UMKM pesisir juga datang dari Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni. Melalui program pokok-pokok pikirannya (pokir), ia telah menyalurkan lima unit mesin penggiling udang kepada Kelompok Nelayan Ketapang Bersama untuk mendukung produksi terasi.

"Saya akan terus memperjuangkan bantuan secara bertahap sesuai kemampuan daerah, karena UMKM pesisir harus kita dorong agar masyarakat semakin sejahtera," kata Lianita.

Menurut dia, pengembangan UMKM merupakan salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan memperkuat perekonomian daerah.

Potensi yang ada di Pulau Merbau menunjukkan sektor perkebunan dan perikanan tidak hanya menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga memiliki peluang besar berkembang sebagai komoditas unggulan Kabupaten Kepulauan Meranti. (ADV)

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Pemkab Meranti Salurkan Bantuan Guru Korban Rumah Terbakar di Rangsang

Pemkab Meranti Salurkan Bantuan Guru Korban Rumah Terbakar di Rangsang

Perjuangan SBT bagi PMI Daerah Perbatasan Mulai Temui Titik Terang

Perjuangan SBT bagi PMI Daerah Perbatasan Mulai Temui Titik Terang

Rakor RFK, Wabup Muzamil Tekankan Efisiensi Anggaran dan Optimalisasi PAD

Rakor RFK, Wabup Muzamil Tekankan Efisiensi Anggaran dan Optimalisasi PAD

Pemkab Meranti Komit Dukung Penguatan Jamsostek bagi Pekerja Rentan

Pemkab Meranti Komit Dukung Penguatan Jamsostek bagi Pekerja Rentan

Kabel Jaringan Internet Semraut, Pemkab Meranti Bentuk Tim Penata

Kabel Jaringan Internet Semraut, Pemkab Meranti Bentuk Tim Penata

Bupati Asmar Minta PLN Komitmen Tingkatkan Pelayanan Kelistrikan

Bupati Asmar Minta PLN Komitmen Tingkatkan Pelayanan Kelistrikan

Komentar
Berita Terbaru