Bupati Meranti Resmikan Sumur Minyak Ringgit
MERANTI – Bupati Kepulauan Meranti, Drs. H. Irwan MSi memberikan apresiasi kepada EMP Malaca Straits yang berhasil memperluas eksploitasi sumur minyaknya di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti. Hal itu disampaikan Bupati saat meresmikan produksi sumur minyak lapangan Ringgit di Desa Tanjung Kecamatan Tebingtinggi Barat, Selasa (24/3) kemarin.
"Kita mengapresiasi usaha keras pihak EMP Malaca Straits. Semakin banyak sumur, maka akan semakin meningkat produksi minyak yang berarti akan meningkatkan penerimaan daerah dari sektor dana bagi hasil (DBH)," ungkap Bupati saat memberikan sambutan.
Menurutnya, Kepulauan Meranti juga mendapatkan nilai tambah berupa penyerapan tenaga kerja. "Meski sektor perminyakan ini memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus tetapi juga ada bidang-bidang pekerjaan yang bisa dilakukan oleh warga kita," tambah Bupati.
Selain itu dengan hadirnya sumur MSTB 01 di lapangan Ringgit akan berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. "Nantinya masyarakat bisa membuka warung atau memasok bahan makanan ke pekerja di sini. Kita harapkan lapangan minyak ini terus berkembang," harap Bupati.
Namun demikian Bupati Kepulauan Meranti mengharapkan dengan ditemukannya sumur minyak di Kepulauan Meranti diharapkan tidak menyulitkan masyarakat mendapatkan minyak. Menurutnya saat ini kebutuhan BBM di Kepulauan Meranti mencapai 80 ribu kilo liter (KL) per bulan namun kuota BBM dari Pertama hanya sekitar 30 ribu KL per bulan.
"Kita kekurangan sekitar 50 ribu KL BBM. Saat ini banyak kilang-kilang sagu rakyat yang tidak berjalan karena tidak adanya BBM. Atas dasar itu saya harapkan ada pihak yang berinvestasi di sektor refinery minyak karena pasarnya sangat besar di sini," ungkap Bupati.
Sebelum itu General Manager Energi Mega Persada (EMP) Malaca Straits Bagus Kartika menjelaskan bahwa lapangan Ringgit sudah ditemukan oleh Hudbay Oil sejak tahun 1987 namun kondisinya saat itu tidak ekonomis. Pada 12 Juli 2010 pihaknya kembali mengembangkan sumur tersebut namun akibat berbagai kendala sumur itu baru bisa berproduksi tepatnya pada 15 April 2015.
"Kapasitas produksi sumur MTSB 01 ini sekitar 300 barel per hari atau sekitar 48 ribu liter. Kita akan terus menggembangkan lapangan ini hingga nantinya kita harapkan bisa mencapai empat sumur. Sampai saat ini kita sudah memproduksi sekitar 6.000 barel," ungkap Bagus.
Untuk tenaga kerja, Bagus menjelaskan banyak menggunakan tenaga kerja lokal yang selama ini dilatih di lapangan minyak Kurau Pulau Padang yang juga dikelola EMP Malaca Straits. "Untuk tenaga ahlinya hanya empat orang satu sumur. Tetapi untuk bidang kerja lainnya ada juga dan itu semua masyarakat setempat," tegas Bagus.
Dalam sambutannya Bagus mengapresiasi dukungan Pemkab Kepulauan Meranti atas usaha perusahaannya. Menurutnya dukungan tersebut diberikan di seluruh lini hingga ke tingkat aparatur desa. "Saya kira sangat wajar Pemkab Kepulauan Meranti mendapat penghargaan bidang investasi karena kita merasa sangat di-support di sini," cerita dia.
Menyangkut gagasan Bupati agar ada kilang refinery (penyulingan) minyak di Meranti, Bagus mengaku memang sangat bagus. Soalnya, jika ada kilang refinery maka pihaknya tidak perlu lagi mengangkut minyak mentah jauh-jauh, cukup langsung ke kilang penyulingan berdekatan.
"Itu sangat baik jika berdiri kilang refinery. Skala kecil pun sudah cukup. Saya akan cba menjajaki pihak-pihak yang bermain di sector refinery ini untuk coba menangkap peluang yang diberikan Bupati," kata Bagus.
Saat ini, tambah Bagus, total produksi minyak EMP Malaca Straits di Kepulauan Meranti sekitar 4.500 sampai 6.000 barel per hari. Produksi itu berasal dari sumur-sumur minyak yang tersebar di Pulau Padang dan Pulau Tebingtinggi.
Pada kesempatan sama Perwakilan SKK Migas wilayah Sumatera Rudi Fajar menambahkan bahwa produksi sumur MTSB 01 merupakan kabar gembira di tengah penurunan produksi minyak nasional. "Selaku pengawasa dalam pengusahaan hulu migas kami harapkan usaha EMP Malaca Straits ini terus berkelanjutan," tegasnya.
Dalam kesempatan itu Bupati meninjau lapangan Ringgit tersebut yang terletak di hulu Sungai Suir. Di lokasi tersebut sudah tersedia kapal barge berukuran besar yang menampung setiap produksi minyak yang mengalir dari sumur yang berjarak sekitar satu kilometer dari tepi sungai.
Di lokasi juga sudah terdapat pondok-pondok pekerja yang terbuat dari kayu. Serta pengawasan ketat dari sekuriti dimana setiap tamu yang datang diharuskan mengenakan pakaian standar keselataman pekerja. (adv)
"Kita mengapresiasi usaha keras pihak EMP Malaca Straits. Semakin banyak sumur, maka akan semakin meningkat produksi minyak yang berarti akan meningkatkan penerimaan daerah dari sektor dana bagi hasil (DBH)," ungkap Bupati saat memberikan sambutan.
Menurutnya, Kepulauan Meranti juga mendapatkan nilai tambah berupa penyerapan tenaga kerja. "Meski sektor perminyakan ini memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus tetapi juga ada bidang-bidang pekerjaan yang bisa dilakukan oleh warga kita," tambah Bupati.
Selain itu dengan hadirnya sumur MSTB 01 di lapangan Ringgit akan berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. "Nantinya masyarakat bisa membuka warung atau memasok bahan makanan ke pekerja di sini. Kita harapkan lapangan minyak ini terus berkembang," harap Bupati.
Namun demikian Bupati Kepulauan Meranti mengharapkan dengan ditemukannya sumur minyak di Kepulauan Meranti diharapkan tidak menyulitkan masyarakat mendapatkan minyak. Menurutnya saat ini kebutuhan BBM di Kepulauan Meranti mencapai 80 ribu kilo liter (KL) per bulan namun kuota BBM dari Pertama hanya sekitar 30 ribu KL per bulan.
"Kita kekurangan sekitar 50 ribu KL BBM. Saat ini banyak kilang-kilang sagu rakyat yang tidak berjalan karena tidak adanya BBM. Atas dasar itu saya harapkan ada pihak yang berinvestasi di sektor refinery minyak karena pasarnya sangat besar di sini," ungkap Bupati.
Sebelum itu General Manager Energi Mega Persada (EMP) Malaca Straits Bagus Kartika menjelaskan bahwa lapangan Ringgit sudah ditemukan oleh Hudbay Oil sejak tahun 1987 namun kondisinya saat itu tidak ekonomis. Pada 12 Juli 2010 pihaknya kembali mengembangkan sumur tersebut namun akibat berbagai kendala sumur itu baru bisa berproduksi tepatnya pada 15 April 2015.
"Kapasitas produksi sumur MTSB 01 ini sekitar 300 barel per hari atau sekitar 48 ribu liter. Kita akan terus menggembangkan lapangan ini hingga nantinya kita harapkan bisa mencapai empat sumur. Sampai saat ini kita sudah memproduksi sekitar 6.000 barel," ungkap Bagus.
Untuk tenaga kerja, Bagus menjelaskan banyak menggunakan tenaga kerja lokal yang selama ini dilatih di lapangan minyak Kurau Pulau Padang yang juga dikelola EMP Malaca Straits. "Untuk tenaga ahlinya hanya empat orang satu sumur. Tetapi untuk bidang kerja lainnya ada juga dan itu semua masyarakat setempat," tegas Bagus.
Dalam sambutannya Bagus mengapresiasi dukungan Pemkab Kepulauan Meranti atas usaha perusahaannya. Menurutnya dukungan tersebut diberikan di seluruh lini hingga ke tingkat aparatur desa. "Saya kira sangat wajar Pemkab Kepulauan Meranti mendapat penghargaan bidang investasi karena kita merasa sangat di-support di sini," cerita dia.
Menyangkut gagasan Bupati agar ada kilang refinery (penyulingan) minyak di Meranti, Bagus mengaku memang sangat bagus. Soalnya, jika ada kilang refinery maka pihaknya tidak perlu lagi mengangkut minyak mentah jauh-jauh, cukup langsung ke kilang penyulingan berdekatan.
"Itu sangat baik jika berdiri kilang refinery. Skala kecil pun sudah cukup. Saya akan cba menjajaki pihak-pihak yang bermain di sector refinery ini untuk coba menangkap peluang yang diberikan Bupati," kata Bagus.
Saat ini, tambah Bagus, total produksi minyak EMP Malaca Straits di Kepulauan Meranti sekitar 4.500 sampai 6.000 barel per hari. Produksi itu berasal dari sumur-sumur minyak yang tersebar di Pulau Padang dan Pulau Tebingtinggi.
Pada kesempatan sama Perwakilan SKK Migas wilayah Sumatera Rudi Fajar menambahkan bahwa produksi sumur MTSB 01 merupakan kabar gembira di tengah penurunan produksi minyak nasional. "Selaku pengawasa dalam pengusahaan hulu migas kami harapkan usaha EMP Malaca Straits ini terus berkelanjutan," tegasnya.
Dalam kesempatan itu Bupati meninjau lapangan Ringgit tersebut yang terletak di hulu Sungai Suir. Di lokasi tersebut sudah tersedia kapal barge berukuran besar yang menampung setiap produksi minyak yang mengalir dari sumur yang berjarak sekitar satu kilometer dari tepi sungai.
Di lokasi juga sudah terdapat pondok-pondok pekerja yang terbuat dari kayu. Serta pengawasan ketat dari sekuriti dimana setiap tamu yang datang diharuskan mengenakan pakaian standar keselataman pekerja. (adv)
Baca Juga:
SHARE:
Berita Terkait
Operasi Antik 2026, Polres Meranti Intensifkan Razia THM untuk Cegah Narkoba
Muzamil Ingatkan Musrenbang Bukan Formalitas, Tapi Arah Masa Depan Daerah
Komsos Babinsa di Banglas, Warga Diimbau Aktif Jaga Lingkungan
Patroli Rutin Babinsa dan MPA di Desa Mekarbaru Pastikan Wilayah Bebas Karhutla
Imigrasi Selatpanjang Jadikan Melai sebagai Desa Binaan Cegah TPPO dan TPPM
Pencurian Ruko di Tanjung Harapan Selatpanjang Terungkap, Satu Pelaku Ditangkap
Komentar