Selasa, 23 Juni 2026 WIB
Selasa, 23 Juni 2026 WIB

Waspadai Siklus Lima Tahunan DBD

- Rabu, 30 September 2015 09:27 WIB
Waspadai Siklus Lima Tahunan DBD
BENGKALIS - Puncak siklus lima tahunan penyebaran demam berdarah dengue diperkirakan terjadi pada 2015. Itu ditandai dengan peningkatan jumlah kasus penyakit tersebut di sejumlah daerah. Masyarakat pun diimbau waspada dan aktif mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan penyakit itu.


Baca Juga:

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis melalui Kepala Bidang Pengendali Masalah Kesehatan Lingkungan Irawadi SKM, MPH Selasa (29/9) mengatakan, siklus lima tahunan ini merupakan hasil pengamatan data jumlah kasus DBD dalam kurun waktu tertentu. Dari pengamatan data itu muncul sebuah pola DBD yang menunjukkan grafik naik atau turun. Berdasarkan pengamatan tersebut, ada suatu masa yang menunjukkan pola jumlah kasus DBD yang lebih tinggi dibanding waktu-waktu lainnya, yang biasanya muncul setiap lima tahun. Inilah yang kemudian disebut dengan siklus lima tahunan DBD.


Kalau memang itu terjadi maka ada kekhuatiran kasus DBD di Kabupaten Bengkalis akan meningkat drastis bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk diketahui, pada tahun 2014 lalu, ada 591 kasus DBD dengan kematian sebanyak 7 orang yaitu Kecamatan Bengkalis 4 orang kasus kematian, Kecamatan Mandau (Duri) 2 orang dan kecamatan Bukit Batu 1 orang. Tahun 2014, kasus DBD terjadi di 7 kecamatan dari 8 kecamatan. Satu-satunya yang tidak ada kasus DBD adalah kecamatan Rupat.


Irawadi mengatakan, sejauh ini belum diketahui penyebab pasti mengapa setiap lima tahun sekali kasus DBD meningkat drastis. Namun, dari sejumlah literatur, sikIus lima tahunan DBD disebabkan oleh sirkulasi virus dengue yang terdiri dari empat stereotip. Jika ada satu stereotip virus dengue yang dalam beberapa periode tidak muncul, maka ketika dia akhirnya menginfeksi manusia, diperkirakan jumlah korbannya akan banyak. Pasalnya, orang yang sudah pernah terkena virus dengue stereotip lain pun rawan untuk terinfeksi kembali oleh virus dengan stereotip berbeda.


Terlebih dengan kondisi asap saat ini dimana akibat dari suplai oksigen yang kurang menyebabkan daya tubuh, terutama anak-anak menurun. Hal itu akan menyebabkan virus DBD mudah menyerang. Hingga bulan September ini saja telah terjadi 22 kasus DBD dan semuanya anak-anak.


Menurut Irawadi, peningkatan kasus DBD di Bengkalis ini membuat Diskes Kabupaten Bengkalis terus melakukan fogging di area terdampak. "Setiap hari kita fogging, tiada hari tanpa fogging," katanya seraya menambahkan, selain fogging, pihaknya juga gencar melakukan penyuluhan terkait DBD, khususnya di desa-desa yang muncul kasus DBD serta desa-desa berdekatan.


Pola hidup bersih menurut Irawadi sangat penting untuk mencegah munculnya DBD. Kemudian, sesegera mungkin membawa anak-anak yang mengalami demam panas ke Puskesmas atau RSUD agar tidak terlambat ditangani oleh petugas kesehatan kalau hasil diagnosa ternyata demam DBD.(Gus)

SHARE:
Berita Terkait
Kejurda SMI Pekanbaru 2026, Perguruan Pencak Silat SMI Komwil Meranti Sabet 50 Medali

Kejurda SMI Pekanbaru 2026, Perguruan Pencak Silat SMI Komwil Meranti Sabet 50 Medali

Kejurprov Catur Riau 2026: Kontingen Meranti Raih Tiga Emas, KONI Bidik Lima Besar Porprov 2027

Kejurprov Catur Riau 2026: Kontingen Meranti Raih Tiga Emas, KONI Bidik Lima Besar Porprov 2027

Perjuangkan Pembangunan dan Infrastruktur Kepulauan Meranti, Bupati Asmar Temui Bappenas RI

Perjuangkan Pembangunan dan Infrastruktur Kepulauan Meranti, Bupati Asmar Temui Bappenas RI

Pilkades Serentak 2026, ASN dan Perangkat Desa Diingatkan Tetap Netral

Pilkades Serentak 2026, ASN dan Perangkat Desa Diingatkan Tetap Netral

Patroli Rutin Karhutla di Desa Insit, Babinsa Ingatkan Bahaya Membakar Lahan

Patroli Rutin Karhutla di Desa Insit, Babinsa Ingatkan Bahaya Membakar Lahan

Babinsa Koramil 02/Tebing Tinggi Edukasi Masyarakat soal Hukum dan Pancasila

Babinsa Koramil 02/Tebing Tinggi Edukasi Masyarakat soal Hukum dan Pancasila

Komentar
Berita Terbaru