Sekolah di Meranti Diminta Aktifkan PIK-KRR
MERANTI, POG - Data hasil survei pada tahun 2008 oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan menunjukkan, sebanyak 63 persen remaja SMP sudah melakukan hubungan seks. Sedangkan 21 persen siswa SMA pernah melakukan aborsi.
Hal itu menjadi prihatin Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB Syarifah Zumah dengan kecenderungan remaja melakukan perbuatan asusila.
"Fakta membuktikan bahwa kasus ini banyak terjadi di kalangan pelajar,yang masih status sekolah menengah sampai di tingkat mahasiswa. Sehingga hal ini menjadi catatan hitam di dalam dunia pendidikan Indonesia," ujar Syarifah.
Lanjut Syarifah, Lebih gawatnya seks bebas itu kini telah menjadi tren oleh beberapa kelompok pelajar serta merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat. Fenomena ini, jika dicermati didorong oleh berbagai faktor.
"Salah satu faktornya adalah minimnya pengetahuan seks yang benar dan terpadu melalui pendidikan formal (sekolah), maupun informal (orang tua)," katanya kepada merantione.com.
Menurut Syarifah lagi, masa remaja merupakan masa sangat penting dalam kehidupan manusia. karena masa tersebut adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju pada persiapan menjadi dewasa. Sebagai masa transisi yang sifatnya masih labil tentu saja banyak hal-hal yang berubah pada diri seorang remaja.
"Mewujudkan remaja tegar, sehat, bertanggungjawab, serta meningkatkan kepedulian berbagai pihak dalam rangka mempersiapkan generasi penerus bangsa,” tandasnya. (pog/Ima)
Baca Juga:
Buka Diklat Capaska Meranti 2026, Asmar : Emban Amanah Penuh Tanggungjawab
Melalui Komsos, Babinsa Ajak Warga Selatpanjang Kota Jaga Lingkungan Tetap Kondusif
Babinsa Koramil 02/Tebing Tinggi Intensifkan Patroli Karhutla di Desa Bina Maju
Pemusatan Diklat 30 Capaska Meranti 2026 Dimulai, 2 Diberangkatkan ke Provinsi
Meranti Raih 3 Prestasi pada Ajang Adujak GenRe Riau 2026