Minggu, 19 April 2026 WIB
Minggu, 19 April 2026 WIB

Lahir dari Semangat Perjuangan Pemuda hingga "Sentuhan Lembut" PT ITA, Wisata Telaga Air Merah Kini Jadi Penyumbang Ekonomi Desa

Pauzi - Senin, 22 September 2025 23:04 WIB
Lahir dari Semangat Perjuangan Pemuda hingga "Sentuhan Lembut" PT ITA, Wisata Telaga Air Merah Kini Jadi Penyumbang Ekonomi Desa
Suasa pemandangan objek wisata Telaga Air Merah di Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. (foto ist)
merantione.com -Telaga Air Merah. Begitu sebutan yang melekat pada objek wisata alam buatan di Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau itu.

Baca Juga:

Nama itu disematkan sesuai dengan kondisi air telaganya yang berwarna merah dikarenakan berada di lahan gambut. Airnya bersih dengan suasana lingkungan asri serta nuansa alam yang sejuk dipandang mata.

Telaga yang berukuran kurang lebih setengah hektar ini, semulanya merupakan wadah penyediaan air yang digunakan untuk PDAM pada zaman pemerintah Kabupaten Bengkalis yang telah terbengkalai selama kurang lebih 8 tahun (2010-2018).

Kini, ia menjadi aset Kabupaten Kepulauan Meranti setelah resmi mekar dari kabupaten induknya tersebut pada tahun 2009 silam.

Ada kisah perjuangan panjang hingga telaga ini menjadi objek wisata alam buatan yang favorit dikunjungi oleh warga di Kabupaten Kepulauan Meranti, bahkan dari luar daerah.

Ia bermula pada tahun 2018 lalu. Dimana, pemuda Desa Tanjung berinisiatif untuk mengolah aset pemerintah daerah ini menjadi tempat wisata.

Kondisi telaga ini awalnya sangatlah memprihatinkan, dipenuhi semak belukar dan tumbuhan liar. Lalu, mereka bekerja secara gotong-royong dengan konsumsi seadanya dan peralatan sederhana untuk membersihkannya.

"Perjuangan kami di sini itu mulai dari nol. Dengan bermodalkan semangat dan konsumsi seadanya, kami gotong royong. Saya masih ingat, waktu itu kamu bersama-sama hanya bawa bekal kue keben (roti kering). Foto-fotonya juga masih tersimpan sampai sekarang," cerita Selamat Riadi, penggagas wisata Telaga Air Merah, Selasa (16/9/2025).

Selama kurang lebih setahun, ia dan teman-temannya mengubah semak belukar itu menjadi destinasi wisata agar bisa dikunjungi orang.

Ada suka dan duka, bahkan tantangan tersendiri dalam perjalanan mereka mengolah potensi wisata itu.

Saat awal dibuka, kenangnya, Telaga Air Merah sepi pengunjung. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 di tahun 2019 hingga 2020, yang tentunya ada pembatasan aktivitas berkumpul oleh pemerintah. Mereka pun terpaksa membukanya secara kucingan-kucingan dengan petugas.

"Walaupun sepi pengunjung, kami tetap ke sini, setidaknya gotong royong membersihkan sampah supaya telaga ini tetap bersih dan nyaman. Namanya rezeki kita tidak tahu, yang penting usaha dulu," tuturnya saat dikunjungi di Telaga Air Merah.

Namun, sambungnya bercerita lagi, perlahan-lahan mulai ada masyarakat yang datang berkunjung. Meskipun masih minim dan pendapatan pas-pasan untuk menutup biasa operasional, tetapi dari situ mulai terlihat hasil jerih payah perjuangan mereka bersama.

Kemudian karena keterbatasan modal, lalu pemerintah Desa Tanjung membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada tahun 2019, salah satunya untuk mendukung pengembangan potensi wisata tersebut.

Dari situlah BUMDes mulai memberikan suntikan dana pengelolaan, meskipun tidak besar.

Di akhir tahun 2021, ia pun ditunjuk sebagai Ketua BUMDes Desa Tanjung. Ini merupakan tonggak awal bagi Selamat dan teman-temannya membuat program kerja berkelanjutan untuk memajukan wisata Telaga Air Merah.

Dengan berbagai terobosan promosi, terutama lewat media sosial, geliat kunjungan wisata pun makin mereka rasakan dari tahun ke tahun.

Hingga, pada di tahun 2024 dan 2025 jumlah kunjungan makin ramai, mencapai ratusan, bahkan ribuan orang. Terlebih pada momentum tertentu seperti hari besar dan libur sekolah maupun akhir pekan. Termasuk kunjungan outbond dari berbagai organisasi, lembaga atau yang lainnya.

"Tak terasa sudah tujuh tahun lebih kami mengelola objek wisata ini. Alhamdulillah, sekarang sudah berjalan dan ada penghasilan kami. Kedepan, kami juga punya agenda untuk meningkatkan daya tarik pengunjung datang kesini," ucap Selamat.

Meski demikian, dia menuturkan bahwa setiap bulan dilakukan evaluasi. Terutama soal manajemen pengelolaan wisata Telaga Air Merah, kebersihan, hingga pembenahan kemampuan dalam melayani setiap pengunjung.

Mereka juga berencana menggelar berbagai iven tahunan, seperti festival tari dan lomba sampan, serta lainnya untuk menarik minat pengunjung.

"Setiap hari Jumat kami kesini. Walaupun cuma dua orang, kami tetap gotong royong membersihkan sampah," ujar anak watan Desa Tanjung itu.

Untuk biaya masuk wisata Telaga Air Merah ini, ungkap Selamat pula, per karcis dikenakan tarif Rp5.000. Di dalamnya tersedia wahana permainan seperti perahu kayuh kaki dan kolam renang dengan tarif tersendiri.

Ada juga fasilitas penunjang lainnya berupa pondok-pondok kecil tempat bersantai, lapak jualan minuman dan makanan ringan hingga mushola dan toliet. Selain itu, pengelola juga menyediakan jasa outbond bagi pengunjung.

Lebih jauh, selain pengelolaan wisata Telaga Air Merah, Selamat mengutarakan bahwa BUMDes Desa Tanjung yang ia pimpin itu juga mengelola unit usaha di bidang jasa dan perdagangan.

Seperti jasa Kempang penyeberangan dari Desa Tanjung ke Darul Takzim serta perdagangan dalam bentuk penyediaan sembako dan air galon bagi PT ITA (Imbang Tata Alam).

Dalam hal jas penyeberangan Kempang ini, BUMDes melibatkan kontribusi semua masyarakat Desa Tanjung ikut mendayung.

"Jadi, setiap minggu itu orangnya ganti-ganti yang mendayung. Kalau dulu 170 orang yang dayung. Sistemnya cabut undi. Lumayan dapatnya. Minimal 1 juta rupiah seminggunya. Ada pemasukan untuk masyarakat kami," sebutnya.

Selamat juga tidak lupa memaparkan pendapatan BUMDes Tanjung yang kini ikut berperan dalam menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes).

Dimana, bebernya, pada akhir tahun 2022, PAD yang disumbangkan sebesar Rp19,5 juta. Kemudian di tahun 2023 naik menjadi Rp21 juta. Berlanjut di akhir 2024 naik di angka Rp52 juta.

"Jumlah itu khusus untuk PADes saja. Tidak termasuk pendapatan sisa hasil usaha (SHU) BUMDes. Nah, kalau laba bersihnya itu di tahun 2024 sebesar Rp129 juta. Itu semua merupakan total pendapatan dari tiga unit usaha BUMDes Tanjung setelah dipotong biaya operasional dan lainnya," beber Selamat.

Untuk di tahun 2025 ini, lanjutnya menjelaskan, belum dilakukan penghitungan karena belum tutup buku.

"Jadi, di tahun 2026 awal nanti baru kami hitung berapa total pendapatan pada 2025 ini. Intinya, saat ini kami tetap tetap konsisten mengelola unit usaha yang ada, terlebih objek wisata Telaga Air Merah ini," jelasnya menutup perbincangan.

Peran PT ITA Lewat Sentuhan Lembutnya

Dibalik perjuangan berkembangnya pengelolaan objek wisata Telaga Air Merah di Desa Tanjung itu, ternyata ada peran yang dimainkan oleh PT ITA lewat sentuhan lembutnya.

Perusahaan migas ini memberikan kontribusi kehadiran mereka dengan melakukan terobosan untuk membuat kemajuan atau kemandirian bagi masyarakat di wilayah operasionalnya, sebagai bagian dari program CSR (Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan).

"Kami melihat ada potensi. Ini (Telaga Air Merah) dikelola dari semak belukar sampai terasa berbeda saat ini. Perjuangan yang luar biasa dilakukan oleh kawan-kawan itulah yang awalnya mulai kami coba support," ungkap Field Sr CSR Officer PT ITA, Arip Hidayatuloh, saat berkunjung ke wisata Telaga Air Merah, beberapa hari lalu.

Pihaknya, kata pria yang akrab di sapa Kang Arip itu, memainkan peran sebagai fasilitator dan katalisator dalam membantu pengembangan kearifan lokal, seperti objek wisata Telaga Air Merah ini.

Katalisator itu diibaratkannya seperti sabun yang membuat air dan minyak bisa bercampur. Itu yang menjadi kekuatan tersendirinya.

"Kami bukan hanya datang memberi bantuan, terus langsung pergi. Namun, lebih dari itu, bagaimana mempercepat proses kemajuan bisa dilakukan," tuturnya.

Begitu pula dukungan terhadap pengembangan wisata Telaga Air Merah, akuinya, dilakukan secara bertahap. Mulai dari membantu memperbaiki jalan yang rusak hingga membangun mushala dan toliet sebagai fasilitas pendukungnya dengan cara swakelola dan gotong royong.

Karena menurutnya, dalam konteks membangun desa wisata itu tidak cukup hanya pusat wisata saja, tapi juga fasilitas pendukung lainnya.

"Konsepnya, bantuan kami itu bukan hanya dalam bentuk fisik bangunan saja, melainkan juga dengan kolaborasi, motivasi, ide maupun terobosan baru. Kami ini juga semacam provokator. Tapi bukan yang negatif ya. Provokatornya yang bersifat positif untuk masyarakat," jelasnya sembari bercanda.

Arip mengaku bangga dan terharu terhadap keberhasilan pengembangan objek wisata Telaga Air Merah itu. Dengan bermodalkan semangat, akhirnya potensi yang dikelola itu dapat menyumbang PADes (Pendapatan Asli Desa) melalui pemasukan BUMDes.

Disamping, bisa menambah pundi-pundi pendapat para pengelola dan masyarakat tempatan yang berjualan makanan dan minuman ringan di lokasi objek wisata dimaksud.

Perusahaan, sebut dia, berupaya terus mendukung BUMDes setempat, yang kini telah menjadi salah satu yang terbaik di Kepulauan Meranti, terlebih dengan kontribusi signifikannya pada PADes.

"Kami sangat mengapresiasi keterlibatan aktif pemuda desa untuk pengembangan kearifan lokal tersebut," tutur Kang Arif.

Menutup kisah perjuangan panjang tentang pengembangan wisata Telaga Air Merah dan kontribusi PT ITA, Kepala Desa Tanjung, Muhamad Anas pun ikut mengulas ceritanya.

Dimana, pemerintah desa mengambil langkah inisiatif melalui koordinasinya dengan Pemda Kepulauan Meranti melalui Bagian Aset dan Dinas PUPR untuk mengolah aset Telaga Air Merah yang terbengkalai itu menjadi tempat wisata.

Dengan kerjasama berbagai pihak, terutama Pemda, Pokdarwis, dan BUMDes, aset ini berhasil diubah menjadi tempat wisata yang lebih baik.

Pengembangan ini, akuinya, merupakan hasil dari perjuangan dan kerja keras pemuda, terutama dalam membersihkan dan menata kembali telaga yang sebelumnya tidak terawat.

Ia pun tidak luput mengucapkan rasa syukurnya atas keberhasilan itu. Sehingga apa yang diharapkan oleh semua pihak membuahkan hasil, terutama dalam wujud nyata peningkatan ekonomi desa dan masyarakat Tanjung.

"Terima kasih atas dukungan semua pihak dan kontribusi nyata dari PT ITA terhadap desa kami ini. Mudah-mudahan kedepan dapat berlanjut kolaborasi yang baik seperti ini," ucap Anas.

Ungkapan serupa juga sempat terucap dari Siti Hawa, salah seorang pedagang lokal. Dirinya sungguh tak menyangka bisa meraup pundi-pundi uang lewat berjualan makanan dan minuman di lokasi wisata itu.

"Alhamdulillah, lumayanlah rezeki yang kami dapatkan dari berjualan sejak ada wisata Telaga Air Merah ini. Setidaknya bisa menambah pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga dan jajan sekolah anak kami," ucap wanita paruh baya itu.

Buah dari Semangat Bertahan yang Konsisten

Pada akhirnya, semangat perjuangan dan usaha konsisten yang lahir dari keinginan kuat pemuda di Desa Tanjung itu, kini berbuah manis. Inisiatif untuk menggerakkan ekonomi lokal tersebut bukan hanya sekedar mimpi.

Disaat banyak yang berkembang dan akhirnya tumbang, wisata Telaga Air Merah justru tetap bertahan dengan menawarkan motor inspirasi lewat semangat usaha yang konsisten itu.

Dukungan dan kontribusi nyata dari berbagai pihak juga ikut memainkan peran disana. Seperti halnya yang dilakukan oleh PT ITA terhadap wilayah operasionalnya untuk membantu masyarakat.

Meskipun menghadapi tantangan soal produksi yang mulai menurun, perusahaan migas ini terus berupaya untuk memberikan dampak positif dari kehadiran mereka bagi masyarakat.

Peran aktif PT ITA, baik melalui CSR maupun lainnya dalam pemberdayaan dan pengembangan ekonomi lokal patut diacungkan jempol. Komitmen perusahaan itu terhadap tanggungjawab sosial sejatinya ikut membantu pemerintah dalam meningkatkan perekonomian desa.(Pauzi)

Editor
: Pauzi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru