Rabu, 24 Juni 2026 WIB
Rabu, 24 Juni 2026 WIB

Luas Karhutla Di Kabupaten Bengkalis Capai 500 Ha

- Rabu, 04 Maret 2015 14:15 WIB
Luas Karhutla Di Kabupaten Bengkalis Capai 500 Ha

BENGKALIS -Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kabupaten Bengkalis hingga saat ini masih terjadi. Kepala Badan Penangguangan Bencana Daerah (BPBD Damkar) melalui kepala Bidang Pemadam kebakaran, Suiswantoro, Rabu (4/3) mengungkapkan sejak pertama kali terjadi karhutla pada awal tahun 2015 hingga saat ini, jumlah lahan yang terbakar mendekati 400 hingga 500 hektar.

Baca Juga:


"Kejadian karhutla sudah dimulai 13 januari sampai saat ini perkiraan kita itu mungkin sudah mendekati angka 400-500 hektar," ungkapnya.


Saat ini menurut Suiswantoro, titik api yang terbesar berada di Desa Tanjung Belit dan Sungai Linau. "Titik api yang besar saat ini berada di Tanjung Belit dan Sungai Linau. Untuk Sungai Linau ini kesulitanya memang titik api berada pada pertengahan dari pada kawasan, karena itu sudah memasuki kawasan hutan dan membutuhkan waktu jarak antara 7-10 KM dari jalan. Serta juga di daerah Rupat, Rupat Utara dan Rupat Selatan ini berada di tengah-tengah dan juga tingkat kesulitannya adalah akses untuk menuju kelokasi kebakaran, dan juga keterbatasan sumber air di lokasi," ungkapnya.


Tiupan angin kencang, sumber air yang minim dan cuaca yang panas juga memperparah keadaan. "Kesulitan pertama memang dari kondisi alam, musim kemarau yang menyebabkan air sudah mulai menipis dilapangan, dan juga kondisi panas yang cukup tinggi, ditambah dengan angin yang selalu bertiup dengan kencang dan berubah arah, yang terjadi sekitar pukul 10.00 hingga 16.00. Kalau cuacanya cukup ekstrim, misalnya 35 derajat ke atas, itu perputaran angin cukup kencang, sehingga menyebabkan api loncat yang menyebabkan perpindahan titik api dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga menambah luas areal yang terbakar. Ada disuatu tempat yang kita padamkan, karena kondisinya lahan gambut kering, ini dapat menimbulkan titik api kembali," terangnya.


"Di dusun Sungai Empang baru muncul sekitar empat hari yang lalu, namun karena tiupan angin yang begitu kencang diwilayah ini dan kondisi panas yang masih tinggi sehingga api memang selalu muncul, terutama dilahan - lahan yang sudah dapat kita padamkan itu muncul kembali. Ini akibat air permukaan dilahan gambut itu sudah tipis atau sudah habis, sehingga terkena tiupan angin selalu terjadi api-api itu muncul kembali," terangnya.


Karena itu,disebut Kabid perlu adanya respon kembali agar api yang ada dapat benar-benar padam. "Untuk pemadaman, dari hasil pengamatan kita langsung, maupun informasi dari masyarakat itu memang masih dijumpai beberapa titik kebakaran yang memang perlu direspon kembali agar api benar-benar padam, seperti yang terjadi di Dusun Permatang Duku Timur, kemudian yang ada di Teluk Latak, maupun diareal yang berbatasan dengan PT Meskom. Kemarin sore juga terjadi titik kebakaran di Sungai Selari, kemudian di Jalan bangdes, Sungai Pakning. Dan juga di Tanjung belit, serta di desa Dompas," terangya lagi.


Masih menurut Kabid, petugas dilapangan juga harus bekerja ekstra dengan untuk mencari sumber air dengan cara menggali aliran air.


"Memang kita rasakan dari petugas akibat kemarau yang sudah cukup panjang ini, ketersediaan sumber air dilapangan memang sudah mulai menipis, sehingga kita juga harus mengupayakan kerja ekstra dengan menggali kembali kanal maupun aliran air agar mata air dapat muncul. Seperti di Desa Tanjung Belit, itu Kepala desanya bekerjasama dengan pihak perkebunan sudah mengupayakan untuk mengerahkan alat-alat berat yang ada dilokasi untuk membuat sumur-sumur air," ungkapnya.


Akibat sulitnya sumber air ini, bahkan petugas pemadam hanya bisa memadamkan kebakaran pada ekor api. "Seperti di Tanjung Belit memang kita rasakan sumber air yang terbatas, sehingga kita beberapa kali sudah masuk akhirnya kita bisa mematikan api yang berada pada ekor api, sementara pada kepala api itu sumber air sudah habis, di kanal-kanal itu juga sudah kering," sambungnya.


"Dilokasi dari hasil pantauan kita, selain BPBD Damkar juga MPA maupun masyarakat juga turut aktif berkat adanya dorongan dari aparat desa, di daerah rawan karhutla memang kondisi seperti ini yang kita harapkan dari masyarakat, selain juga meminta perhatian yang lebih dari masyarakat agar tidak melakukan upaya pembukaan ataupun pembersihan lahan dengan cara dibakar, karena sangat berbahaya," imbuhnya.


Sementara untuk hujan buatan yang dijadwalkan pada Maret ini, menurut Suiswantoro ia tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut, karena hal itu bukan wewenangnya.


"Untuk hal ini (hujan buatan, red) kita tidak bisa berikan informasi teknis ya, karena ini berada pada kewenangan BMKG maupun BPPT dan Kementrian Kehutanan, kita di daerah hanya bisa sebatas memberikan informasi bahwa di Bengkalis ini tingkat curah hujan masih minim. Mengenai dimana titik pembuatan itu ada pada instansi yang lebih teknis menanganinya," pungkasnya. (Gus)


SHARE:
Berita Terkait
Usai Kalah hingga Mahkamah Agung, Swandi Kembali Pagar Aset Pemkab Meranti, Satpol PP Bersiap Turun

Usai Kalah hingga Mahkamah Agung, Swandi Kembali Pagar Aset Pemkab Meranti, Satpol PP Bersiap Turun

Di Forum Sosek Malindo, Pemkab Kepulauan Meranti Perjuangkan Nasib Pekerja Migran

Di Forum Sosek Malindo, Pemkab Kepulauan Meranti Perjuangkan Nasib Pekerja Migran

Komsos di Selatpanjang Kota, Babinsa Ajak Warga Utamakan Keselamatan Beraktivitas

Komsos di Selatpanjang Kota, Babinsa Ajak Warga Utamakan Keselamatan Beraktivitas

Cegah Karhutla, Babinsa Koramil 02/Tebing Tinggi Rutin Sisir Desa Bantar

Cegah Karhutla, Babinsa Koramil 02/Tebing Tinggi Rutin Sisir Desa Bantar

Lantik Sejumlah Pejabat Baru, Dirjen Imigrasi Tegaskan Komitmen Perkuat Integritas dan Benahi Layanan Publik

Lantik Sejumlah Pejabat Baru, Dirjen Imigrasi Tegaskan Komitmen Perkuat Integritas dan Benahi Layanan Publik

Kejurda SMI Pekanbaru 2026, Perguruan Pencak Silat SMI Komwil Meranti Sabet 50 Medali

Kejurda SMI Pekanbaru 2026, Perguruan Pencak Silat SMI Komwil Meranti Sabet 50 Medali

Komentar
Berita Terbaru