Tak Hanya Diguyur Hujan, Petani Karet Bengkalis Juga Diguyur Kesedihan
BENGKALIS - Masyarakat Bengkalis, yang mengais rezeki dengan menoreh karet (getah), saat ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, selain musim penghujan yang terus mengguyur, harga karetpun hingga saat ini seakan tidak dapat tertolong.
Baca Juga:
Tidak hanya itu, keresahan warga yang berprofesi sebagai petani karet inipun semakin mencekam dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 8.500 perliternya. Sedangkan harga karet perkilonya hanya berkisar 5.000 sampai 6.000.
Hal ini sangat dikeluhkan sejumlah petani karet, khususnya yang berdomisili di pulau Bengkalis. Masnan salah seorang warga Kecamatan Bantan contohnya, kepadawartawanIa mengaku sangat terpukul dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Seakan berada titian tangga, sudah terjatuh tertimpa lagi. Itu lah pepatah yang seakan dirasakan kepala keluarga paruh baya ini. Tekanan ekonomi keluarga, hasil kerja yang tidak seberapa, membuat dirinya seakan putus asa dengan kondisi negeri saat ini.
“Sekarang cuaca semakin banyak turun hujan, mau motong (menoreh karet,red) pun jadi sudah jarang. Sedangkan harganya pun segitu (5-6 ribu,red), harga minyak yang semakin menjadi-jadi naiknya, macam mana kami nak memenuhi kebutuhan keluarga kalau begini,”ceritanya dengan raut wajah seakan khawatir.
Ayah yang memiliki 5 anak ini melanjutkan, kebutuhna keluarga sejatinya masih bisa diminimalisir hanya mencapai 50 ribu sehari. Dimana didalamnya cukup hanya makan dengan kondisi lauk-pauk seadanya.
Namun ironis, kebutuhan yang bila dipandang tidak seberapa itu, bagi dia dan keluarga sangat bernilai harganya. Kenapa tidak, saat ini ia tidak lagi mampu menyiapkan uang 50 ribu perharinya dengan kondisi yang alaminya saat ini.
“Bahkan saya mengutang di kedai untuk membeli makanan untuk dimakan anak dan keluarga kami. Mau tidak mau saya harus bertahan dan berjuang untuk anak-anak saya. Walaupun rasanya berat sekali untuk menerima kondisi saya yang hanya bekerja memotong getah seperti ini,” keluhnya.
Masran menambahkan ceritanya, setiap hari dia berharap kelak anak-anaknya tidak seperti apa yang dialaminya saat ini. Karena menurutnya hal ini sangat pait untuk dilalui oleh seorang petani karet.
“Saya pergi motong sekitar jam 5 atau 5.30, kalau cuacanya cerah. Tapi sekarang ini saya sempat meneteskan air mata, karena tidak dapat motong karena hujan. Dalam doa di hati, saya mengatakan, ‘Ya Allah, Bukan aku tak bersukur dengan nikmat hujanmu, tapi aku tak kuat melihat anak-anakku menderita karena aku tak bisa bekerja,’ itu yang membuat saya betul-betul sedih,” jelasnya.
Dia hanya berharap, karena masih memiliki keyakinan terhadap kekuasaan sang pencipta, semoga kesusahan yang menimpa ia maupun petani karet lainnya dapat segera membuahkan kebahaian untuk keluarga.
“Saya memang tidak tahu, karena saya tau sekolah saya pun tidak tamat dan ini juga lah yang menjadi resiko saya, tapi kalau pemerintah kita bisa membantu, tolong lah dibantu dengan kekuasaan yang dipunya. Supaya kami tidak terus menderita semacam ini,” singkatnya, seakan berharap kesadaran manusiawi pemerintah itu timbul.(Gus)
Sekda Meranti Tekankan 9 Aspek Penting ke Aparatur di Kecamatan Merbau
Bupati Asmar Harap Pilkades Serentak 8 Oktober Berlangsung Sukses
Tinjau Penanganan Karhutla di Gemalasari, Bupati Asmar : Tetap Waspada Cegah Kebakaran
Lantik 13 Pejabat, Ini Pesan dan Harapan Sekda Meranti
Terkait Penggeledahan Bagian Umum, Pemkab Meranti Hormati Proses Hukum